Emitentrust.com – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) meyakini tren penerbitan surat utang atau obligasi korporasi di dalam negeri tetap akan tumbuh positif pada 2026, meskipun dihadapkan pada volatilitas nilai tukar Rupiah dan penguatan dolar Amerika Serikat.
Direktur Utama Pefindo Irmawati menyampaikan, optimisme tersebut didorong oleh tingginya kebutuhan pembiayaan (financing) dari emiten, seiring dengan besarnya nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo sepanjang 2026.
“Kami masih tetap memandang penerbitan obligasi di tahun 2026 tetap positif di tengah mungkin dolar yang lagi meningkat. Karena kami lebih melihat kepada kebutuhan financing dari emiten-emiten kita,” ujar Irmawati usai menghadiri acara Optimalisasi Penerbitan Surat Utang dengan Credit Enhancement di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis.
Selain faktor refinancing, Irmawati menjelaskan bahwa jatuh temponya obligasi juga akan menciptakan likuiditas baru di sisi investor. Dana tunai hasil pelunasan obligasi dinilai akan kembali masuk ke pasar keuangan, termasuk ke instrumen surat utang baru.
“Biasanya kalau ada yang jatuh tempo, selain mereka refinancing, investor juga punya cash. Nah cash itu yang harus diinvest lagi. Ini membuka peluang bagi emiten-emiten untuk menerbitkan surat utang,” jelasnya.
Di sisi lain, Pefindo juga menegaskan akan melakukan special review terhadap perusahaan atau anak usaha yang terdampak pencabutan izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) oleh pemerintah, sepanjang entitas tersebut merupakan perusahaan yang diperingkat oleh Pefindo atau memiliki obligasi yang diterbitkan di pasar modal Indonesia.
“Kalau ada yang kami peringkat, pasti kami akan melakukan special review. Kalau benar ada dari perusahaan-perusahaan itu yang kita rate, pasti kita lakukan special review,” tegas Irmawati.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas kredit dan risiko obligasi tetap terjaga, sekaligus memberikan gambaran yang lebih akurat bagi investor di tengah dinamika kebijakan dan kondisi ekonomi terkini.


