back to top

CGAS Ungkap Siap Jadi Raja LNG Baru di Karawang!

Emitentrust.com – PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) mengungkapkan keseriusannya mengembangkan bisnis Liquefied Natural Gas (LNG) melalui pembangunan LNG Station di Karawang, Jawa Barat. Perseroan bahkan menargetkan fasilitas tersebut mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV tahun 2026.

Dalam klarifikasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Manajemen CGAS menjelaskan penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 35201 menjadi langkah strategis agar proyek LNG dapat direalisasikan .

Perseroan mengungkapkan proyek tersebut telah memperoleh alokasi gas bumi dari Kementerian ESDM sejak Juli 2025 dan progres pembangunan fasilitas pendukung kini telah mencapai sekitar 70%.

Manajemen menilai bisnis LNG akan menjadi sumber pendapatan utama baru Perseroan ke depan. LNG dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi dibanding bisnis distribusi gas sebelumnya karena memungkinkan Perseroan masuk ke rantai bisnis pengolahan gas alam.

“Perseroan berpotensi kehilangan peluang ekspansi usaha, diversifikasi sumber pendapatan, serta optimalisasi potensi pasar LNG yang terus berkembang apabila penambahan KBLI tidak dilakukan,” tulis manajemen.

Perseroan juga mengungkapkan sejumlah calon pelanggan potensial LNG yang berasal dari sektor industri, di antaranya PT Yamaha Motor Parts Manufacturing Indonesia, PT Indo Kordsa Tbk, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk, hingga PT Ateja Tritunggal.

Dari sisi proyek, tahap engineering pembangunan LNG Station telah mencapai 79,5%, procurement 66,96%, serta construction sebesar 66,44%. Perseroan menyebut pembangunan pondasi Cold Box dan LNG Pump Skid telah diselesaikan, sementara pembangunan pagar area proyek hampir rampung.

Untuk mendukung operasional LNG, Perseroan juga berencana menambah 42 tenaga kerja baru. Saat ini, satu karyawan baru di bidang Health, Safety, and Environment (HSE) telah direkrut dan rekrutmen Kepala LNG Station segera dilakukan.

Dalam keterangannya, Perseroan mengakui belum memiliki pengalaman langsung dalam bisnis LNG. Namun proyek ini didukung Greenfir melalui PT GT Ladang Teknologi sebagai penyedia utama teknologi LNG.

Perseroan juga menyebut belum terdapat perusahaan dengan model bisnis LNG serupa di wilayah Karawang dan Jawa Barat sehingga optimistis dapat menjadi first mover di kawasan tersebut.

Meski demikian, pengembangan proyek LNG juga menghadapi sejumlah tantangan. Perseroan mengungkap keterlambatan timeline pembangunan disebabkan proses penerbitan alokasi gas dari Kementerian ESDM yang mempengaruhi keseluruhan pengembangan proyek. Keterlambatan tersebut berpotensi menimbulkan penalti dalam Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Pertamina EP.

Hingga Maret 2026, penggunaan dana pembangunan LNG tercatat dalam akun uang muka dengan saldo mencapai Rp101,66 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan LNG Station, pengadaan engineering, hingga pembelian tanah proyek.

Artikel Terkait

BEI Rombak Daftar Saham di 6 Indeks! BBCA, BBRI, BMRI Bobot nya Naik

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan hasil evaluasi sejumlah indeks saham untuk periode efektif mulai 2 Juni 2026. Evaluasi tersebut mencakup indeks IDXVESTA28, ECONOMIC30, SRI-KEHATI,

MedcoEnergi (MEDC) Kantongi Kontrak Gas Rp21T di IPA Convex 2026

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) kembali mempertegas komitmennya dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui penandatanganan sejumlah kesepakatan komersialisasi gas bumi pada ajang Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City pada 20 Mei 2026.

BIPI Ungkap Rencana Lepas Anak Usaha Tambang Batu Bara Rp1,7T

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) berencana melepas hampir seluruh kepemilikan sahamnya di PT Sentosa Bara Gemilang (SBG) kepada PT Indotambang Perkasa Bersama (IPB) dalam transaksi jumbo senilai Rp1,788 triliun. Rencana transaksi tersebut diungkap perseroan dalam keterbukaan informasi kepada pemegang saham sebagai bagian dari aksi korporasi material yang wajib memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan dugelar pada 30 Juni 2026. Manajemen BIPI menjelaskan, perseroan akan menjual sebanyak 4.995 lembar saham atau setara 99,90% kepemilikan di SBG kepada IPB. Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJB) telah dilakukan pada 21 Mei 2026. Adapun penyelesaian transaksi ditargetkan rampung paling lambat 21 Desember 2026 atau pada tanggal lain yang disepakati para pihak. Perseroan menyebut langkah divestasi ini merupakan bagian dari strategi untuk mengoptimalkan portofolio investasi sekaligus memperkuat struktur permodalan perusahaan. “Rencana transaksi dilakukan sebagai bagian dari langkah strategis Perseroan untuk merealisasikan nilai investasi pada aset yang telah berkembang, memperkuat struktur permodalan, meningkatkan fleksibilitas keuangan, serta membuka ruang bagi Perseroan untuk mengalokasikan sumber daya pada peluang usaha lain,” tulis manajemen. SBG sendiri merupakan aset perusahaan yang bergerak di sektor batu bara, pertambangan, dan usaha terkait lainnya melalui sejumlah anak usaha yang memiliki portofolio aset serta area konsesi tambang. Selain itu, perseroan juga menegaskan transaksi ini sejalan dengan arah transformasi bisnis menuju portofolio energi berkelanjutan dan berbasis Environmental, Social and Governance (ESG). RUPS Luar Biasa untuk meminta restu pemegang saham dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni 2026 di Jakarta.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru