Emitentrust.com – PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) mencatatkan pencapaian bersejarah dengan membukukan laba neto positif pertama sejak melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada kuartal I-2026, emiten holding investasi multisektor tersebut berhasil meraih laba bersih sebesar Rp14,82 miliar, berbalik dari posisi rugi bersih Rp2,89 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama FOLK, Danny Sutradewa, dalam paparan kinerja Perseroan pada Selasa (9/6/2026), mengatakan capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan strategi transformasi dan penguatan fundamental yang dijalankan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya perbaikan kinerja tersebut ditopang oleh kombinasi efisiensi operasional yang telah dijalankan sejak 2024 serta keberhasilan Perseroan dalam mengeksekusi strategi investasi pada berbagai sektor potensial.
Tidak hanya berhasil mencetak laba, FOLK juga mencatat penguatan neraca yang signifikan pasca pelaksanaan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD). Hingga 31 Maret 2026, total aset Perseroan melonjak 93,57% secara kuartalan menjadi Rp147,50 miliar.
Di sisi lain, total ekuitas meningkat 108,42% menjadi Rp137,80 miliar, sementara total liabilitas turun menjadi Rp9,71 miliar. Perseroan kini berada dalam posisi keuangan yang lebih sehat dengan status zero bank debt atau tanpa utang bank.
Sebagai perusahaan holding investasi, FOLK terus memperluas portofolio bisnisnya. Jika sebelumnya berfokus pada ekosistem new media, retail brands, dan intellectual property, kini Perseroan aktif melakukan diversifikasi ke sektor healthcare, mining & resources, serta utility infrastructure.
Danny memaparkan portofolio strategis yang menjadi andalan adalah Traya Group, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air bersih dan air limbah. Traya menyediakan solusi terpadu mulai dari Waste Water Treatment Plant (WWTP), Sewage Treatment Plant (STP), Water Treatment Plant (WTP), hingga emergency water treatment unit.
Dia menilai peluang bisnis sektor pengolahan air di Indonesia masih sangat besar, didorong kebutuhan lebih dari 150 juta penduduk perkotaan serta meningkatnya permintaan dari sektor industri, properti, BUMN, dan layanan kesehatan.
Di sektor kesehatan, FOLK juga memperkuat pijakan melalui kepemilikannya di PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS). Bersama jaringan Bundamedik Healthcare System (BMHS), DGNS mengembangkan model layanan kesehatan terintegrasi berbasis laboratorium, klinik spesialis, dan teknologi digital.
Sepanjang 2025, DGNS telah mengoperasikan 41 klinik dan laboratorium diagnostik di berbagai kota dengan total lebih dari 957 ribu tes diagnostik, menjadikannya salah satu pemain terbesar di industri diagnostik nasional.
” Ke depan, FOLK menargetkan pertumbuhan pendapatan yang lebih agresif melalui optimalisasi sinergi antarportofolio dan peningkatan efisiensi operasional. Perseroan juga membuka peluang melakukan aksi korporasi lanjutan, termasuk rights issue maupun langkah strategis lainnya untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi, ” papar Danny.
Dengan fundamental yang semakin kuat, rasio gearing yang rendah serta posisi tanpa utang bank, FOLK optimistis dapat mempercepat pertumbuhan bisnis sekaligus menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.


