Emitentrus.com – Pasar modal Indonesia mencatat dua cerita berbeda pada pekan 2—6 Maret 2026. Di satu sisi, pasar obligasi justru ramai dengan pencatatan baru bernilai triliunan rupiah. Namun di sisi lain, pasar saham harus menelan pil pahit setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam dalam sepekan.
Selama periode 2—6 Maret 2026, IHSG terkoreksi 7,89% ke level 7.585,687, dari posisi 8.235,485 pada pekan sebelumnya.
Beberapa indikator perdagangan juga ikut mengalami penurunan:
Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,33% menjadi 2,73 juta kali transaksi
Rata-rata nilai transaksi harian turun 16,64% menjadi Rp24,97 triliun
Rata-rata volume transaksi harian turun 17% menjadi 42,34 miliar saham.
Tekanan pasar juga dipicu aksi jual investor asing.
Pada perdagangan terakhir pekan tersebut, investor asing mencatatkan net sell Rp263 miliar.
Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing telah mencatatkan jual bersih Rp7,29 triliun.
Selama periode tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tiga obligasi baru yang mulai diperdagangkan pada Rabu (4/3).
Pertama, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap III Tahun 2026 dengan nilai Rp1,5 triliun.
Obligasi ini mendapat peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Tak ketinggalan, PT RMK Energy Tbk turut mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2026 senilai Rp560 miliar dengan peringkat idA dari PEFINDO dan PT Bank KB Bukopin Tbk sebagai wali amanat.
Dengan tiga pencatatan tersebut, total obligasi dan sukuk yang telah tercatat di BEI sepanjang 2026 mencapai 36 emisi dari 26 emiten dengan nilai Rp40,51 triliun.


