Emitentrust.com – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) yang digelar pada 21 April 2026 dipastikan tidak dapat dilaksanakan. Hal ini disebabkan tidak terpenuhinya kuorum kehadiran pemegang saham.
Adapun agenda yang sedianya akan dibahas dalam RUPSLB tersebut mencakup sejumlah rencana strategis Perseroan, antara lain perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue hingga perubahan Anggaran Dasar Perseroan.
Zainal Abidin Corporate Secretary NINE dalam keterangannya Rabu (22/4) menyampaikan bahwa jumlah pemegang saham yang hadir hanya mewakili 1.001.776.855 saham atau setara dengan 46,44% dari total saham dengan hak suara sah sebanyak 2.157.000.000 saham. Angka tersebut berada di bawah ambang batas minimum yang dipersyaratkan sesuai Anggaran Dasar Perseroan dan ketentuan yang berlaku.
Dengan tidak terpenuhinya kuorum, seluruh agenda rapat otomatis tidak dapat dibahas maupun diputuskan.
Selain itu, rapat juga diagendakan untuk memberikan kewenangan kepada Direksi dalam pelaksanaan aksi korporasi tersebut. Namun, seluruh rencana tersebut kini harus tertunda akibat gagalnya penyelenggaraan rapat.
Pada perdangan hari ini saham NINE turun 1,40 persen ke level Rp140. Padahal saham NINE kemarin saat RUPSLB saham NINE melonjak 9,93% ke level Rp 166 per saham pada Selasa (21/4) siang
Sebagai informasi NINE pernah mengumumkan rencana rights issue dalam rangka mengintegrasikan aset tambang di Mongolia ke dalam portofolio bisnis emiten tersebut selambat-lambatnya pada kuartal II-2026. Ekspansi ini juga mendapat dukungan dari pemegang saham mayoritas NINE asal Singapura, yakni Poh Group.
Opsi pembelian aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR) akan berdampak positif terhadap pemegang saham perusahaan.
PGGR telah menandatangani Framework Agreement untuk kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia.
EPC+F tersebut berencana melakukan investasi sebesar lebih dari US$ 100 juta untuk mengimplementasikan operasional pertambangan proyek-proyek Poh Group atau NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan diproyeksikan lebih dari 20 juta ton.
Lewat kemitraan strategis ini, Poh Group dan NINE tidak akan menanggung belanja modal atau capital expenditure (capex), baik untuk tambang milik sendiri maupun kerja sama operasi dengan Poh Group dan NINE.


