back to top

Wall Street Melemah, Bursa Asia Menguat; IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan?

EmTrust – Pasar saham global bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (13/1). Bursa Wall Street ditutup melemah di tengah meningkatnya volatilitas pasar akibat manuver kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meskipun data inflasi AS memberikan sentimen positif.

Indeks S&P 500 terkoreksi 0,19%, Dow Jones Industrial Average turun 0,8%, sementara Nasdaq Composite melemah 0,1%. Tekanan pasar terutama datang dari sektor keuangan, dengan saham JPMorgan anjlok 4,2% meski membukukan kinerja keuangan kuartal IV yang melampaui ekspektasi. Kenaikan pendapatan dari perdagangan belum mampu menutup pelemahan biaya investment banking yang berada di bawah proyeksi analis.

Saham Goldman Sachs turut melemah lebih dari 1%, sedangkan Mastercard dan Visa masing-masing terkoreksi 3,8% dan 4,5%. Tekanan semakin besar setelah Presiden Trump mengusulkan larangan pembagian dividen dan aksi buyback saham bagi perusahaan pertahanan, serta pembatasan kepemilikan rumah tapak tunggal oleh investor institusi besar. Saham Microsoft juga melemah lebih dari 1% menyusul pernyataan Trump terkait rencana kebijakan untuk menekan kenaikan biaya utilitas akibat ekspansi pusat data.

Di sisi lain, pasar sempat mendapat sentimen positif dari rilis data inflasi AS. Inflasi inti (core CPI) Desember tercatat naik 0,2% secara bulanan (MoM) dan 2,6% secara tahunan (YoY), lebih rendah dari ekspektasi. Sementara inflasi utama naik 0,3% MoM dan 2,7% YoY, sesuai dengan proyeksi pasar.

Berbeda dengan Wall Street, bursa saham Asia ditutup menguat, dipimpin oleh lonjakan indeks Nikkei Jepang yang mencetak kenaikan 3,10% dan mendekati rekor tertinggi. Penguatan ini ditopang pelemahan yen serta optimisme investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), di tengah spekulasi stimulus fiskal pemerintah Jepang.

Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,47%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,90%, dan Taiex Taiwan bertambah 0,46%. Di kawasan Asia Tenggara, FTSE Straits Times naik 0,85% dan FTSE Bursa Malaysia KLCI menguat 0,75%.

Pelaku pasar juga mencermati rencana Presiden Trump yang mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10% selama satu tahun mulai 20 Januari. Kebijakan tersebut diperkirakan akan menjadi perhatian utama sektor perbankan, yang sebelumnya memperingatkan potensi pembatasan akses kredit bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin ditutup menguat 0,72%, didukung aksi beli bersih investor asing senilai sekitar Rp1,45 triliun. Saham-saham yang paling banyak diborong investor asing antara lain PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Secara teknikal, tim riset BNI Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas area support 8.860–8.900, dengan level resistance di kisaran 8.970–9.000.

Untuk perdagangan hari ini, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan, di antaranya MEDC, ARCI, CDIA, MINA, ANTM, dan ENRG, dengan strategi buy on breakout dan speculative buy sesuai dengan level teknikal masing-masing saham.

Artikel Terkait

Grup Bakrie (BNBR) Kantongi Restu Right Issue

Laba bersih Perseroan selama 2025 sebesar Rp 502,74 miliar, naik 49,6% dibanding tahun sebelumnya Pendapatan bersih Perseroan selama 2025 sebesar Rp 3,74 triliun

Laba CMRY Melejit 34%! Tembus Rp2T di 2025

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) mencatat kinerja gemilang sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih Rp2,03 triliun, melonjak sekitar 34,4% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp1,51 triliun.

Pengendali HILL Bolak – Balik Transaksi Jutaan Lembar Harga Gocap

Pemegang saham pengendali PT Hillcon Tbk (HILL), yakni PT Hillcon Equity Management, tercatat melakukan aksi jual sekaligus beli saham dalam dua hari berurutan.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru