Emitentrust.com – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai gejolak pasar global yang masih tinggi justru membuka peluang bagi investor untuk tetap aktif dan selektif dalam menyusun portofolio pada kuartal II 2026.
Pandangan tersebut disampaikan dalam acara Media Day bertema “Volatility to Opportunity: Market Outlook and Strategy for Q2 2026” yang digelar pada Selasa (21/4/2026). Dalam forum tersebut, Mirae memaparkan prospek makroekonomi, sektor unggulan, hingga strategi investasi yang dinilai relevan di tengah ketidakpastian global.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa arah pasar masih dibayangi oleh dinamika suku bunga global serta ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan dan inflasi.
Meski demikian, ia menilai fundamental domestik Indonesia masih cukup solid untuk menopang peluang investasi. Pertumbuhan ekonomi nasional bahkan diproyeksikan tetap berada di kisaran 5% sepanjang 2026, meskipun ruang penurunan suku bunga dinilai terbatas akibat tekanan inflasi dan harga energi.
Dari sisi sektoral, Mirae melihat sektor telekomunikasi mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari ekspektasi. Research Analyst Mirae Asset, Daniel Aditya Widjaja, mengungkapkan bahwa Average Revenue Per User (ARPU) dua operator besar yakni Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dan XL Axiata (EXCL) telah mencapai rekor tertinggi pada kuartal IV 2025.
Menurutnya, hal ini mencerminkan pergeseran industri dari perang harga menuju kompetisi berbasis kualitas layanan. Selain itu, potensi pertumbuhan juga datang dari bisnis baru seperti GPU-as-a-Service (GPUaaS) yang mulai berkontribusi ke pendapatan ISAT, dengan estimasi mencapai USD50–70 juta pada 2026.
Mirae juga menyoroti potensi aksi korporasi seperti spin-off aset fiber milik Telkom Indonesia yang dinilai dapat membuka peluang dividen spesial dengan estimasi yield 12–13%.
Secara rekomendasi, Mirae mempertahankan pandangan overweight untuk sektor telekomunikasi, dengan EXCL sebagai pilihan utama berkat potensi pertumbuhan EBITDA hingga 17,7% pada 2026.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae, Muhammad Nafan Aji, menilai volatilitas pasar justru bisa dimanfaatkan melalui strategi akumulasi bertahap.
Menurutnya, pendekatan value investing menjadi kunci, dengan memanfaatkan momentum harga diskon, dividen, serta kinerja emiten. Ia juga memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 7.346–7.447 dan resistance 7.677–7.774 dalam jangka pendek.
Sejumlah saham big caps dinilai menarik untuk dikoleksi, seperti:
Adaro Energy Indonesia (ADRO)
Bank Central Asia (BBCA)
Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
Bank Negara Indonesia (BBNI)
Bank Mandiri (BMRI)
XL Axiata (EXCL)
Selain itu, saham berbasis komoditas seperti Aneka Tambang (ANTM), Bumi Resources Minerals (BRMS), United Tractors (UNTR), serta Merdeka Copper Gold (MDKA) juga dinilai menarik seiring kuatnya harga emas dan tensi geopolitik global.
Mirae menegaskan bahwa volatilitas bukan sekadar risiko, melainkan peluang yang bisa dimaksimalkan dengan strategi yang tepat. Dengan fundamental domestik yang tetap terjaga dan peluang sektoral yang selektif, investor diharapkan lebih adaptif dalam menangkap momentum pasar di kuartal II 2026.


