back to top

BEI Telisik Laporan Keuangan WIKA Kuartal I – 2026

Emitentrust.com – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wijaya Karya (WIKA) memberikan penjelasan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait tekanan likuiditas dan sejumlah pos keuangan dalam laporan keuangan per 31 Maret 2026.

Dalam menjawab surat BEI WIKA mengungkapkan kas dan setara kas perusahaan turun drastis menjadi Rp1,46 triliun per 31 Maret 2026, merosot 47,11% dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp2,75 triliun.

Perseroan menyebut penurunan kas dipicu pembayaran pinjaman jangka panjang, bunga, operasional perusahaan, hingga pembayaran vendor dan mitra kerja.

Tak hanya itu, saldo bank yang dibatasi penggunaannya juga anjlok dari Rp450,12 miliar menjadi Rp74,94 miliar. WIKA menjelaskan dana tersebut digunakan untuk pembiayaan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) sesuai prospektus PMHMETD II.

Untuk menjaga likuiditas, WIKA mengaku tengah menjalankan sejumlah strategi penyehatan keuangan. Langkah itu meliputi percepatan penagihan piutang bermasalah, divestasi aset non-core melalui asset recycling, hingga fokus pada proyek dengan skema pembayaran monthly progress dan uang muka.

Perseroan juga mengonfirmasi masih berada dalam proses restrukturisasi pinjaman perbankan setelah menandatangani Master Restructuring Agreement (MRA) pada 2024. Bahkan pada April 2026, WIKA telah memperoleh persetujuan penundaan jatuh tempo obligasi dan sukuk melalui RUPO dan RUPSU.

Selain tekanan kas, WIKA juga menghadapi tingginya piutang jatuh tempo. Hingga akhir Maret 2026, piutang usaha yang telah jatuh tempo mencapai Rp1,64 triliun atau setara 68,11% dari total piutang usaha.

Dari jumlah tersebut, piutang dengan umur lebih dari 12 bulan mencapai Rp1,19 triliun.

Menurut perseroan, tingginya piutang tersebut disebabkan kesulitan keuangan yang dialami owner atau pemberi kerja proyek.

Untuk mempercepat penagihan, WIKA mengedepankan negosiasi, mediasi melalui BPKP, Danantara, Jamdatun, hingga litigasi jika diperlukan.

Di sisi lain, saldo Pekerjaan Dalam Proses Konstruksi (PDPK) berumur lebih dari 12 bulan tercatat mencapai Rp5,19 triliun atau 84,45% dari total PDPK bruto.

WIKA menyebut kondisi itu dipengaruhi proses klaim proyek yang masih menunggu persetujuan owner akibat keterbatasan anggaran dan dispute pekerjaan tambah.

Perseroan juga menyoroti tekanan pada bisnis properti. Persediaan WIKA mencapai Rp7,77 triliun dan didominasi aset real estat serta bangunan dalam konstruksi. WIKA mengakui daya beli konsumen melemah akibat lesunya kondisi bisnis dan faktor geopolitik.

Untuk monetisasi aset, perseroan menyiapkan strategi adaptive reuse, skema rent-to-own, hingga short term rental management.

Sementara itu, bagian rugi ventura bersama WIKA pada triwulan I 2026 mencapai Rp384,67 miliar. Perseroan menyebut kerugian tersebut berdampak terhadap profitabilitas dan potensi arus kas masuk perusahaan.

Artikel Terkait

ANTM Gelar RUPST Juni, Ada Dividen & Perombakan Pengurus

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 Juni 2026 pukul 14.00 WIB di Jakarta dan secara elektronik

Emiten Tommy Soeharto (HUMI) Tambah 2 Kapal Baru Senilai Rp38,3M

PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) melakukan penambahan armada melalui serah terima dua unit kapal SPHB dengan nilai perolehan mencapai Rp38,3 miliar.

Saham Anjlok 50%, CBDK Siapkan Buyback Rp250M Mulai Besok

PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp250 miliar di tengah tekanan pasar dan pelemahan harga saham Perseroan sepanjang tahun berjalan.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru