Emitentrust.com – Dua emiten baru, yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), akan resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7/2026). Keduanya menjadi emiten ke Empat dan ke Lima yang melantai di BEI sepanjang 2026.
Pertama, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp442 per saham. Perseroan menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, sehingga berpotensi menghimpun dana sebesar Rp271,83 miliar.
Dalam aksi korporasi ini, PT Erdikha Elit Sekuritas bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek, sedangkan PT Pilarmas Investindo Sekuritas menjadi Penjamin Emisi Efek.
Sekitar Rp91,02 miliar dana hasil IPO akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman jangka panjang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas Omnibus Revolving Loan yang ditarik pada Januari hingga Maret 2026. Sementara itu, sisa dana akan dimanfaatkan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan guna mendukung ekspansi bisnis.
Dalam prospektus terbaru, BACH juga mengungkap adanya perjanjian opsi antara dua pemegang saham utama, yakni PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) dan PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI). Berdasarkan perjanjian tersebut, GTP akan membeli 1.042.227.300 saham milik BMSI dengan harga Rp442 per saham, sehingga setelah transaksi diselesaikan maksimal lima hari kerja setelah pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia, kepemilikan GTP akan meningkat menjadi 51% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan.
Secara fundamental, BACH membukukan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp535,88 miliar. Berdasarkan harga IPO, rasio Price to Earnings Ratio (PER) tercatat 11,61 kali setelah IPO, masih lebih rendah dibandingkan rata-rata industri sebesar 17,64 kali. Sementara itu, rasio Price to Book Value (PBV) berada di level 2,27 kali setelah IPO.
Kemudian yang kedua, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp470 per saham. Perseroan menawarkan 522.857.000 saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, sehingga berpotensi menghimpun dana sebesar Rp245,74 miliar.
Perseroan juga mengalokasikan 5.447.300 saham atau sekitar 1,04% dari saham yang ditawarkan untuk program Employee Stock Allocation (ESA) bagi karyawan. Dalam aksi korporasi ini, PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek, sedangkan PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk dan PT Investindo Nusantara Sekuritas menjadi Penjamin Emisi Efek.
Dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung ekspansi usaha. Sebesar Rp50 miliar dialokasikan untuk membayar sebagian pokok pinjaman Perseroan, sekitar 6,4% digunakan untuk belanja modal berupa pembangunan pabrik di Cikupa, sementara sekitar 72,3% akan dimanfaatkan sebagai modal kerja, termasuk pembelian barang terkait proyek serta pengadaan bahan baku dan persediaan.
Dari sisi kinerja, EMMI membukukan penjualan bersih Rp454,64 miliar pada tahun buku 2025, meningkat 18,1% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp384,93 miliar. Sejalan dengan itu, laba bersih tahun berjalan melonjak 188,2% menjadi Rp32,44 miliar dari Rp11,25 miliar pada 2024. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp34,13 miliar, dibandingkan Rp11,01 miliar pada tahun sebelumnya.
Perseroan juga mencatat jumlah laba komprehensif sebesar Rp71,64 miliar, ditopang oleh kenaikan laba bersih dan surplus revaluasi aset tetap berupa tanah. Adapun laba per saham (EPS) meningkat menjadi Rp27,98, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp9,02 pada 2024.
PT Esa Medika Mandiri Tbk bergerak di bidang perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran untuk manusia.


