Emitentrust.com – PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), emiten pemilik jaringan minuman Teguk, akhirnya menjelaskan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) penyebab lonjakan pendapatan yang mencapai Rp200,7 miliar pada kuartal I 2026, melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp726 juta.
Dalam tanggapan resmi atas permintaan penjelasan BEI, manajemen TGUK pada Selasa (14/7) menyatakan kenaikan tersebut berasal dari mulai beroperasinya lini usaha baru perdagangan daging beku (frozen meat) yang telah memperoleh persetujuan pemegang saham.
Perseroan menjelaskan bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi pendorong utama tingginya permintaan daging pada Januari–Maret 2026. Sebelum musim puncak tersebut, TGUK telah menyiapkan persediaan dan memperkuat jaringan distribusi sehingga mampu memenuhi lonjakan permintaan pasar.
Selain faktor musiman, perusahaan mengungkapkan keberhasilan tersebut didukung pengalaman serta jaringan bisnis investor strategis di industri perdagangan daging yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dengan memanfaatkan jaringan tersebut, perseroan tidak perlu membangun basis pelanggan dari awal sehingga dapat langsung membukukan volume transaksi yang besar.
Saat ini, operasional bisnis daging TGUK dipusatkan di fasilitas seluas 300 meter persegi di Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, yang dilengkapi cold storage berkapasitas 1.000 ton. Gudang tersebut digunakan sebagai pusat penerimaan barang, penyimpanan, pengelolaan persediaan hingga distribusi kepada pelanggan.
Perseroan menegaskan mayoritas penjualan dilakukan melalui agen dan distributor (general trade) berdasarkan sistem purchase order tanpa kontrak jangka panjang. Menurut perusahaan, model ini lebih sesuai karena harga daging merupakan komoditas yang berfluktuasi mengikuti kondisi pasar.
Hingga saat ini, TGUK belum memasuki jaringan ritel modern karena mempertimbangkan tingginya biaya listing fee dan jangka waktu pembayaran yang lebih panjang.
Dalam menjalankan bisnis daging, TGUK menerapkan sejumlah strategi, antara lain memperluas jaringan agen dan distributor, menjaga ketersediaan stok, mempercepat perputaran persediaan, mengoptimalkan jaringan pemasok, serta mengembangkan konsep Toko Daging Platinum yang mengintegrasikan penjualan produk Teguk, makanan siap saji, daging beku, dan frozen processed food dalam satu gerai.
Di sisi lain, perusahaan mengakui bisnis perdagangan daging memiliki sejumlah risiko utama, seperti fluktuasi harga bahan baku, pengelolaan produk beku, konsentrasi pelanggan, serta gangguan rantai pasok. Untuk mengantisipasi hal tersebut, TGUK menerapkan sistem FIFO dan FEFO, pemantauan umur persediaan, penggunaan cold storage, diversifikasi pemasok, hingga memperluas basis pelanggan agar tidak bergantung pada pembeli tertentu.
BEI juga meminta penjelasan mengenai lonjakan beban pokok penjualan menjadi Rp191,3 miliar, laba kotor sekitar Rp9,4 miliar dengan margin kotor 4,7%, kenaikan piutang usaha menjadi Rp198 miliar, serta meningkatnya beban gaji akibat penambahan sekitar 30 karyawan untuk mendukung bisnis baru.
Perseroan menyatakan sebagian besar piutang berasal dari penjualan kredit kepada pelanggan bisnis (B2B) dengan tenor pembayaran 30–90 hari, yang merupakan praktik umum di industri perdagangan daging.
Menurut perseroan, transformasi bisnis sejak akhir 2025 melalui diversifikasi ke perdagangan frozen meat dan frozen processed food menjadi strategi utama untuk memperluas sumber pendapatan di luar bisnis minuman dan makanan (F&B).
Perseroan menjelaskan lonjakan penjualan juga ditopang faktor musiman karena tingginya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri yang merupakan peak season industri perdagangan daging.
“Perseroan telah melakukan persiapan persediaan dan penguatan distribusi sehingga mampu mengoptimalkan penjualan selama periode tersebut,” tulis manajemen.
Andalkan Jaringan Investor Strategis
TGUK mengungkapkan keberhasilan mencatat penjualan sekitar Rp200 miliar hanya dalam satu kuartal bukan berasal dari pembangunan pelanggan baru dari nol.
Menariknya, TGUK mengakui sebagian besar transaksi penjualan daging dilakukan melalui jaringan agen dan distributor tanpa kontrak jangka panjang.
Manajemen menjelaskan transaksi hanya berdasarkan purchase order (PO) karena harga daging merupakan komoditas yang sangat fluktuatif sehingga mekanisme transaksi lebih fleksibel.
Perseroan juga mengungkapkan belum masuk ke jaringan ritel modern karena mempertimbangkan biaya listing fee dan periode pembayaran yang lebih panjang dibanding saluran general trade.


