Emitentrust.com – PT Master Print Tbk (PTMR) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp4,25 miliar pada kuartal I-2026, melonjak 154,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,67 miliar. Kinerja tersebut diraih meski pendapatan perseroan turun 19,41% menjadi Rp29,42 miliar dari Rp36,50 miliar pada kuartal I-2025.
Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 yang disampaikan pada Kamis (16/7) disebutkan, penurunan penjualan diimbangi dengan perbaikan profitabilitas. Beban pokok pendapatan turun menjadi Rp21,27 miliar dari Rp27,15 miliar, sehingga perseroan masih membukukan laba bruto sebesar Rp8,15 miliar.
Kinerja juga ditopang oleh efisiensi beban operasional. Beban umum dan administrasi turun menjadi Rp5,84 miliar dari Rp6,77 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, pendapatan keuangan melonjak menjadi Rp2,95 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sekitar Rp569 juta.
Sejalan dengan itu, laba usaha meningkat menjadi Rp4,71 miliar dari Rp2,75 miliar, sedangkan laba sebelum pajak naik menjadi Rp4,63 miliar dibandingkan Rp2,33 miliar pada kuartal I-2025. Setelah dikurangi beban pajak sebesar Rp380,57 juta, perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp4,25 miliar.
Dari sisi neraca, total aset Master Print hingga akhir Maret 2026 meningkat menjadi Rp122,53 miliar dibandingkan Rp120,85 miliar pada akhir 2025. Total liabilitas turun menjadi Rp45,59 miliar dari Rp48,16 miliar, sementara total ekuitas meningkat menjadi Rp76,94 miliar dari Rp72,69 miliar pada akhir tahun lalu.
Di sisi arus kas, aktivitas operasi menunjukkan perbaikan signifikan dengan menghasilkan kas bersih sebesar Rp6,74 miliar, berbalik positif dibandingkan arus kas operasi negatif Rp2,49 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut mencerminkan peningkatan kualitas operasional meski penjualan masih mengalami tekanan.
Sebagai informasi Saham PT Master Print Tbk (IDX: PTMR) saat ini berada di harga Rp374 per lembar. Perdagangan saham perusahaan distributor dan penyedia perlengkapan pengemasan industri ini mengalami suspensi (penghentian sementara) oleh Bursa Efek Indonesia, setelah terjadinya lonjakan harga akibat rencana akuisisi mayoritas saham oleh perusahaan asal Singapura, Deep Source Pte Ltd.


