Emitentrust.com – Hasil MSCI August 2026 Index Review dinilai memberikan tekanan bagi pasar saham Indonesia. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan perubahan indeks tersebut dapat memicu arus dana keluar hingga Rp1 triliun, meski dampaknya terhadap IHSG diperkirakan relatif terbatas.
Dalam review kali ini, MSCI menghapus PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari MSCI Indonesia Investable Market Index. Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diturunkan dari MSCI Global Standard Index ke Global Small Cap Index.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan hasil review MSCI kali ini cenderung negatif bagi pasar Indonesia. Pasalnya, selain GOTO dikeluarkan dan CPIN turun kelas, tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke Global Standard Index.
“MSCI August 2026 Index Review memberikan hasil yang lebih negatif bagi pasar Indonesia. Sesuai ekspektasi kami, CPIN turun dari Global Standard ke Small Cap, sementara risiko pada GOTO terealisasi dengan penghapusan dari MSCI Indonesia Investable Market Index,” ujar Rully.
GOTO Terdepak karena Harga Rp50
Rully menjelaskan, keputusan MSCI menghapus GOTO berkaitan dengan rendahnya likuiditas saham setelah harga saham emiten teknologi tersebut bertahan di level minimum Rp50 sejak Mei 2026.
Kondisi tersebut dinilai MSCI dapat menimbulkan persoalan dalam kemampuan investor pasif untuk mereplikasi indeks (index replicability issues).
“MSCI secara spesifik menyebut rendahnya likuiditas akibat GOTO bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei sebagai penyebab potensi index replicability issues,” kata Rully.
Menurut Mirae, dampak langsung dari perubahan indeks tersebut lebih bersifat teknikal melalui potensi passive outflow menjelang efektifnya rebalancing pada akhir Agustus.
Tekanan tersebut diperkirakan tidak akan terlalu besar terhadap IHSG secara keseluruhan karena arus dana keluar cenderung terkonsentrasi pada saham yang terkena perubahan indeks.
“Dampak utama bersifat teknikal, dengan potensi passive outflow menjelang implementasi akhir Agustus. Tidak adanya penambahan saham Indonesia ke Standard Index juga berarti tidak terdapat offsetting inflow,” ujar Rully.
Passive Outflow Diperkirakan Rp500 Miliar-Rp1 Triliun
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menilai dampak keseluruhan terhadap pasar Indonesia masih relatif terbatas.
Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah perubahan bobot Indonesia dalam indeks emerging market yang diperkirakan hanya turun dari sekitar 0,49% menjadi 0,46%.
Dari sisi aliran dana, Wilbert memperkirakan passive outflow sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun pada hari efektif rebalancing, yakni setelah perdagangan 31 Agustus 2026.
“Dalam jangka pendek mungkin ada dampak terhadap sentimen karena memang tidak ada penambahan saham dan hanya terjadi pengurangan. Namun, dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan diperkirakan minimal dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung, seperti CPIN,” ujar Wilbert.
Dengan demikian, tekanan terbesar diperkirakan terjadi pada saham yang mengalami perubahan status indeks, sementara dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan relatif terbatas.


