back to top

APBI Ungkap ESDM Pangkas 70% Produksi Batu Bara 2026

Emitentrust.com – Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) mengungkapkan bahwa volume produksi batu bara yang disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk tahun 2026 berada 40–70% lebih rendah dibandingkan dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang diajukan oleh para pengusaha tambang.

Direktur Eksekutif APBI-ICMA Gita Mahyarani menyatakan, berdasarkan laporan dari para anggota asosiasi, angka produksi yang ditetapkan pemerintah jauh di bawah persetujuan RKAB tiga tahunan.

“Berdasarkan laporan anggota, angka produksi yang ditetapkan ini jauh di bawah angka persetujuan RKAB tiga tahunan,” ujar Gita dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.

Gita menjelaskan bahwa pemangkasan produksi terjadi secara signifikan dan bervariasi di kisaran 40–70%, bergantung pada masing-masing perusahaan.

Dengan skala produksi yang terpangkas dalam, perusahaan tambang batu bara disebut menghadapi tantangan besar dalam menutup biaya operasional tetap, termasuk kewajiban lingkungan, keselamatan kerja, serta kewajiban finansial lainnya.

Lebih lanjut, kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penundaan hingga penghentian sebagian atau seluruh kegiatan operasional tambang.

“Kondisi ini meningkatkan risiko penundaan hingga penghentian sebagian atau seluruh kegiatan operasional, termasuk dampaknya pada ketenagakerjaan, yakni PHK,” kata Gita.

Artikel Terkait

Grab Bantah! Rumor Hengkang dari Indonesia Dipastikan Hoaks

CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi membantah kabar yang menyebut Grab akan keluar dari Indonesia. Dia memastikan perusahaan tetap berkomitmen

Rupiah Mendekati Rp18.000 per USD, BI Siapkan Lima Langkah Stabilisasi

Bank Indonesia kembali merespons atas kondisi nilai tukar rupiah saat ini. Kali ini melalui pernyataan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso.

BI Ungkap Cadangan Devisa RI Naik Jadi USD146,2 Miliar di April 2026

BI mencatat Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tetap tinggi sebesar 146,2 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru