EmitenTrust.com – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) emiten tambang emas Grup Bakrie membukukan laba bersih sebesar US$13,28 juta pada semester I-2026, turun 40,34% dibandingkan US$22,27 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, pendapatan Perseroan juga turun 20,73% menjadi US$95,79 juta dari US$120,85 juta pada semester I-2025.
Penurunan kinerja tersebut dipengaruhi oleh melemahnya produksi dan penjualan emas pada kuartal II-2026. Laba usaha Perseroan tercatat US$31,95 juta, turun 36,31% dibandingkan US$50,17 juta pada semester I-2025.
Secara kuartalan, BRMS mencatat pendapatan US$26,32 juta pada kuartal II-2026, merosot dari US$69,47 juta pada kuartal I-2026. Perseroan juga membukukan rugi bersih US$4,78 juta pada kuartal II-2026, berbalik dari laba bersih US$18,06 juta pada kuartal sebelumnya.
Manajemen menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi penurunan kinerja pada kuartal II-2026. Pertama, turunnya produksi akibat pelaksanaan pushback di tambang terbuka River Reef, Poboya, Palu, sebagai bagian dari tahapan mining sequencing. Namun, kegiatan tersebut kini telah selesai dan Perseroan mulai melakukan penambangan pada area bukaan baru sejak semester II-2026, sehingga produksi emas diperkirakan meningkat pada paruh kedua tahun ini.
Faktor kedua adalah kendala penjualan emas akibat kondisi oversupply di pasar domestik. Banyak eksportir memilih menjual emas ke pasar lokal sehingga memicu kelebihan pasokan dan tekanan harga. Akibatnya, BRMS hanya mampu menjual sekitar 70% dari produksi emasnya pada kuartal II-2026. Untuk mengatasi kondisi tersebut, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals, telah menandatangani perjanjian penjualan emas dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada akhir Juni 2026. Perjanjian tersebut
berlaku hingga Juni 2028 dan diharapkan mampu menjaga stabilitas penjualan emas Perseroan.
Ketiga, rata-rata harga jual emas turun menjadi US$4.138 per ons pada kuartal II-2026 dari US$4.512 per ons pada kuartal I-2026.
Sepanjang semester I-2026, volume penjualan emas BRMS tercatat 21.091 ons atau sekitar 656 kilogram, turun dari 38.993 ons atau 1.213 kilogram pada semester I-2025. Penjualan perak juga turun menjadi 44.258 ons dari 109.728 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer BRMS, Agus Projosasmito, mengatakan Perseroan optimistis kinerja produksi dan keuangan akan membaik pada semester II-2026. Selain peningkatan produksi dari area tambang baru, BRMS juga menargetkan penyelesaian ekspansi kapasitas salah satu pabrik pengolahan dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari pada akhir tahun ini. Perseroan juga menargetkan mulai menambang bijih emas berkadar tinggi sebesar 3,5–4,9 gram per ton dari tambang bawah tanah pada semester II-2027.


