Emitentrust.com – PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) membukukan laba bersih sebesar USD1,06 juta pada semester I-2026, merosot 81,91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD5,86 juta. Di sisi lain, pendapatan konsolidasian masih tumbuh tipis 0,33% menjadi USD76,33 juta dari USD76,08 juta pada semester I-2025.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian (tidak diaudit), penurunan laba terjadi seiring meningkatnya beban pokok penjualan dan beban operasional. Beban pokok penjualan naik 7,37% menjadi USD57,39 juta dari USD53,45 juta, sementara beban operasi meningkat 23,04% menjadi USD15,06 juta dari USD12,24 juta.
Kondisi tersebut menekan laba bruto menjadi USD18,94 juta, turun 16,31% dibandingkan USD22,63 juta pada semester I-2025. Laba operasi juga terkoreksi tajam 62,66% menjadi USD3,88 juta dari USD10,39 juta, sedangkan laba sebelum pajak turun 65,40% menjadi USD2,92 juta dari USD8,44 juta.
Di tengah tekanan profitabilitas, Ancora mencatat EBITDA sebesar USD10,51 juta, turun 30,86% dibandingkan USD15,20 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan menyebut bisnis bahan kimia dan bahan peledak pertambangan tetap menjadi tulang punggung usaha dengan kontribusi 95% terhadap total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari bisnis solusi peledakan meningkat 11% secara tahunan menjadi USD25 juta.
Dari sisi neraca, hingga 30 Juni 2026 total aset Ancora mencapai USD157,63 juta, dengan total ekuitas sebesar USD56,84 juta. Perseroan juga membukukan saldo kas sebesar USD7,52 juta, setara sekitar 5% dari total aset, dengan rasio net gearing 0,57 kali dan rasio lancar 1,29 kali, mencerminkan struktur permodalan yang dinilai tetap kuat.
Direktur Utama Ancora Indonesia Resources, Ratno “Ale” Paskalis Hendrawan, dalam keterbukaan informasi Senin (27/7) mengatakan pendapatan yang stabil mencerminkan permintaan yang tetap solid di bisnis inti bahan kimia dan bahan peledak pertambangan yang terintegrasi. Menurutnya, perusahaan berada pada posisi yang baik untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan seiring rencana revisi RKAB yang diperkirakan meningkatkan aktivitas pertambangan pada semester II-2026.
Selain itu, Ancora juga membidik pertumbuhan dari peluang ekspor amonium nitrat dan aksesori peledak ke kawasan Asia Pasifik, diversifikasi pelanggan di luar sektor pertambangan, serta pengoperasian pabrik booster di Handil, Kalimantan Timur, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai salah satu motor pertumbuhan pendapatan dan laba jangka panjang.
Pada perdagangan hari ini Senin (27/7) saham OKAS turun 2 persen ke level Rp248.


