Emitentrust.com – Ototritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama pimpinan DPR RI dan Danantara menegaskan optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.
Pada perdagangan hari ini Selasa (19/5) pukul 10:55 IHSG anjlok 3,20 persen ke level 6.382
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama CEO Danantara Rosan Roeslani, COO Danantara Donny Oskaria dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan | Periode 2026-2032. Friderica Widyasari Dewi mendatangi gedung BEI pada Selasa (19/5) untuk memberikan dukungan terhadap stabilitas pasar modal domestik.
Direktur Penilaian Perusahaan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menjelaskan pelemahan IHSG masih sejalan dengan tren koreksi bursa regional akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter global, serta dampak rebalancing indeks MSCI.
Menurut BEI, koreksi pasar domestik masih tergolong moderat, yakni sekitar 1,98% setelah pengumuman MSCI dan 1,85% setelah perdagangan kembali dibuka usai libur panjang.
“Pergerakan indeks kita sudah lebih fundamental dan relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI maupun subindeks utama seperti LQ45, IDX30, dan ID80,” ujar Nyoman dalam konferensi pers Selasa di Gedung BEI.
Di tengah tekanan pasar, BEI justru mencatat adanya peningkatan minat investor domestik. Nilai aktiva bersih reksa dana tercatat meningkat Rp49,71 triliun atau sekitar 6,39% secara year-to-date menjadi Rp718,44 triliun.
Selain itu, jumlah investor pasar modal Indonesia juga terus bertambah signifikan. Hingga saat ini, total investor tercatat mencapai sekitar 27 juta single investor identification (SID), naik sekitar 6–7 juta investor baru dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu CEO Danantara Rosan Roeslani menilai pasar modal Indonesia masih memiliki prospek jangka panjang yang sangat menarik, terutama didukung valuasi saham yang dinilai murah serta fundamental emiten yang kuat.
Ia mencontohkan sejumlah saham perbankan BUMN yang saat ini diperdagangkan dengan price to book value (PBV) di bawah 1 kali, jauh lebih rendah dibanding kondisi normal yang bisa mencapai di atas 2 hingga 3 kali.
“Kalau kita lihat secara fundamental maupun pricing, saham-saham BUMN kita sangat menarik dan memiliki potensi upside,” kata Rosan di gedung BEI Selasa (19/5).
Menurutnya, investasi di pasar modal harus dilihat dalam horizon jangka panjang, bukan pergerakan harian ataupun mingguan.
Sementara itu, Sufmi Dasco Ahmad menyatakan DPR mendukung berbagai langkah reformasi yang dilakukan BEI dan OJK untuk memperkuat tata kelola, transparansi, serta integritas pasar modal Indonesia.
BEI juga mengungkapkan sekitar 85% dari total 957 perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keuangan. Dari data tersebut, laba bersih dan profit perusahaan tercatat secara agregat meningkat sekitar 21,5%.
Selain itu, dari sisi pipeline pencatatan saham baru, saat ini terdapat sekitar 15 calon emiten potensial yang sebagian besar berasal dari kategori papan utama.
BEI optimistis kombinasi pertumbuhan investor domestik, perbaikan fundamental emiten, serta reformasi regulasi akan memperkuat daya tahan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.


