Emitentrust.com – PT SL Global Tbk (SULI) mengungkapkan kondisi keuangan dan operasional perseroan yang masih berada dalam tekanan berat di tengah rencana Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement melalui skema konversi utang menjadi saham.
Dalam tanggapan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen SULI pada Rabu (3/6) mengakui pendapatan usaha perseroan terus mengalami penurunan tajam sejak 2023 hingga kuartal I-2026. Bahkan, jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2022, pendapatan perseroan telah merosot sekitar 95%.
Tercatat, pendapatan usaha SULI hanya mencapai US$3,04 juta pada kuartal I-2026, jauh di bawah posisi tahun 2022 yang mencapai US$58,87 juta. Penurunan tersebut menyebabkan arus kas operasional perseroan mengalami tekanan dan sempat mencatatkan posisi negatif sejak 2024.
Manajemen menjelaskan, keterbatasan modal kerja menjadi penyebab utama menurunnya volume produksi dan penjualan sehingga perseroan tidak mampu mengoptimalkan kapasitas operasionalnya.
“Kerugian Perseroan pada 31 Maret 2026 terutama disebabkan oleh tidak tercapainya volume produksi dan penjualan akibat keterbatasan modal kerja yang menghambat kapasitas operasional,” tulis manajemen dalam surat tanggapan kepada BEI.
Untuk mengatasi tekanan likuiditas, SULI saat ini tengah mencari sumber pendanaan baru dari lembaga keuangan perbankan maupun non-perbankan. Perseroan juga melakukan pengelolaan kas secara lebih ketat guna menjaga keberlangsungan usaha.
Terkait rencana PMTHMETD, BEI meminta penjelasan karena sebagian kreditur yang akan mengonversi piutangnya menjadi saham merupakan pihak terafiliasi. Kreditur tersebut antara lain PT SAS Global Jaya, PT AKB Global Jaya, serta Direktur Utama Perseroan Amir Sunarko. Sementara PT Gelora Patriot Jaya disebut belum diungkapkan status hubungan afiliasinya.
Menanggapi hal itu, SULI menyatakan pelaksanaan PMTHMETD mengacu pada ketentuan POJK Nomor 14 Tahun 2019, khususnya Pasal 3 huruf a juncto Pasal 8B huruf c yang mengatur penambahan modal dalam rangka perbaikan posisi keuangan melalui penyelesaian kewajiban yang telah jatuh tempo.
Perseroan juga mengungkapkan hingga saat ini masih menunggu hasil penelaahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait keterbukaan informasi yang telah disampaikan.
Selain PMTHMETD untuk konversi utang, SULI sebelumnya juga telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan PMTHMETD sebanyak 632,07 juta saham dalam RUPSLB pada 19 Desember 2025. Namun hingga kini aksi korporasi tersebut belum direalisasikan.
Manajemen menjelaskan, perseroan masih melakukan penjajakan dan negosiasi dengan sejumlah calon investor. Persetujuan PMTHMETD tersebut masih berlaku selama dua tahun sejak memperoleh persetujuan pemegang saham.
Meski menghadapi tekanan keuangan, SULI menegaskan belum melihat adanya potensi gagal bayar tambahan terhadap kreditur lain di luar empat kreditur yang telah disebutkan dalam rencana konversi utang.
Ke depan, perseroan berencana memperbaiki kinerja melalui peningkatan efisiensi operasional, pengendalian biaya, renegosiasi kontrak pemasok, optimalisasi modal kerja, diversifikasi produk, penguatan saluran penjualan, serta restrukturisasi keuangan dan pencarian sumber pendanaan baru.
Pada perdagangan hari ini Rabu (3/6) saham SULI turun 2 persen ke level Rp84. Dalam sebulan terakhir SULI ambles 18,4 persen dari harga Rp103 pada 6 Mei 2026.
PT SL Global Tbk (kode saham: SULI) adalah perusahaan terbuka asal Indonesia yang bergerak di bidang perdagangan umum dan distribusi berbagai produk industri. Perusahaan ini dikenal melalui jaringan logistik dan pemasaran yang melayani beragam sektor manufaktur dan komersial di dalam negeri.


