back to top

BEI Telisik Rencana Right Issue RMKO, Kenapa?

Emitentrust.com – PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) akhirnya buka suara terkait rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue, setelah diminta klarifikasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam penjelasannya, manajemen menegaskan bahwa rights issue menjadi strategi utama untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus menjaga keberlangsungan operasional di tengah meningkatnya kebutuhan modal kerja.

“Rights issue dipilih agar perseroan dapat meningkatkan ekuitas tanpa menambah beban utang, sehingga rasio leverage tetap terjaga,” ungkap manajemen, Rabu (9/4).

RMKO menyebut, skema rights issue memberikan fleksibilitas arus kas karena tidak menimbulkan kewajiban pembayaran bunga seperti pinjaman bank.

Selain itu, langkah ini juga memberi kesempatan kepada pemegang saham lama untuk Mempertahankan kepemilikan dan Menghindari dilusi signifikan.

Langkah ini dinilai penting di tengah adanya gap antara kewajiban jangka pendek dan aset lancar, seiring fase ekspansi usaha yang sedang berjalan.

RMKO secara terbuka mengakui adanya kebutuhan modal kerja, terutama karena adanya gap antara kewajiban jangka pendek dan aset lancar di tengah fase pengembangan usaha.


Dana hasil rights issue nantinya akan difokuskan untuk modal kerja, dengan mayoritas penggunaan direncanakan dalam 6 bulan pertama setelah dana diterima.

Untuk menjaga kepercayaan investor, perusahaan menyiapkan mekanisme pengawasan ketat. Dana hasil rights issue akan ditempatkan di rekening terpisah dan hanya digunakan sesuai rencana.

Tak hanya itu, setiap penggunaan dana akan melalui proses verifikasi berlapis (three-way matching), mulai dari pengadaan hingga pembayaran.

Meski rencana rights issue sudah diumumkan, hingga saat ini manajemen belum mengungkap harga pelaksanaan, rasio, maupun jadwal aksi korporasi tersebut.

Seluruh detail tersebut masih dalam tahap pembahasan dan akan disampaikan melalui dokumen resmi ke Otoritas Jasa Keuangan.

Menariknya, perusahaan juga belum memastikan adanya standby buyer, sehingga potensi serapan saham masih bergantung pada kondisi pasar.

Manajemen menyebut pemegang saham pengendali berkomitmen mengeksekusi haknya dalam rights issue. Namun, belum ada kepastian apakah mereka akan menyerap porsi tambahan jika terjadi kekurangan permintaan.

Artikel Terkait

AVIA Bagi Dividen Jumbo Rp1,36T, Setara 78,17% Laba 2025

PT Avia Avian Tbk (“Avian Brands”) atau (AVIA), produsen cat dekoratif terkemuka di Indonesia, hari ini menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Surabaya.

BEI Tetapkan Harga Teoretis Saham Bonus MEGA Rp2.530 per Lembar

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan harga teoretis saham bonus PT Bank Mega (MEGA) menyusul aksi korporasi pembagian saham bonus dengan rasio 1:1.

Besok Listing! Emiten Perdana 2026 Resmi Masuk BEI

PT BSA Logistics Indonesia Tbk resmi mencatatkan saham perdananya pada Jumat (10/4), sekaligus menjadi emiten pertama yang melantai di BEI sepanjang 2026 dengan kode saham WBSA.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru