back to top

Efek Reli MDIA! VIVA Berpotensi Dapat Revaluasi Pasar

Emitentrust.com – Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mulai kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah saham anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), melonjak sekitar 237% dalam satu bulan terakhir hingga perdagangan hari ini. Reli tersebut mendorong kapitalisasi pasar MDIA menjadi sekitar Rp 9,3 triliun.

Di tengah kenaikan tersebut, VIVA masih tercatat sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sebesar 80,73% di MDIA. Dengan kapitalisasi pasar MDIA saat ini, nilai pasar kepemilikan VIVA di emiten media tersebut mencapai sekitar Rp 7,5 triliun.

Menariknya, kapitalisasi pasar VIVA sendiri baru sekitar Rp 955 miliar. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah valuasi VIVA telah mencerminkan nilai aset yang dimilikinya.

Jika menggunakan pendekatan sum of the parts (SOTP) sederhana dengan mengacu pada nilai pasar kepemilikan di MDIA dan memberikan holding company discount sebesar 50%, maka nilai kepemilikan VIVA di MDIA masih mencapai sekitar Rp 3,7 triliun. Nilai tersebut hampir empat kali lebih besar dibandingkan kapitalisasi pasar VIVA saat ini.

Artinya, bahkan setelah menerapkan diskon yang cukup konservatif, valuasi VIVA masih berada jauh di bawah nilai ekonomis kepemilikannya di MDIA. Kondisi tersebut membuka ruang bagi terjadinya rerating apabila pasar mulai memberikan apresiasi terhadap aset yang dimiliki perseroan.

Research Analyst Ajaib Sekuritas, Alvin Timothy, menilai peluang rerating tersebut terbuka apabila investor mulai memperhitungkan nilai aset VIVA secara lebih komprehensif.

“Potensi rerating akan terbuka apabila pasar mulai menghargai aset yang dimiliki VIVA,” ujar Alvin Timothy.

Alvin menambahkan, saham VIVA saat ini diperdagangkan pada level Rp 54 dan masih berada dalam mekanisme Full Call Auction (FCA). Menurutnya, apabila harga saham VIVA mampu bertahan di atas level Rp 50 sesuai ketentuan Bursa Efek Indonesia, maka VIVA berpeluang keluar dari papan FCA. Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham sekaligus memperluas basis investor yang dapat bertransaksi di saham VIVA.

Dalam praktiknya, perusahaan holding memang lazim diperdagangkan di bawah nilai aset bersihnya. Diskon tersebut dipengaruhi berbagai faktor, seperti struktur utang di level holding, biaya operasional, tata kelola perusahaan, hingga kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Artikel Terkait

IHSG Bergairah di Sesi I, Seluruh Sektor Menghijau

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan sepanjang perdagangan sesi I pada Jumat (7/8/2026), ditopang sentimen domestik yang tetap positif setelah rilis data cadangan devisa Indonesia.

BEI Buka Lelang 11 Saham Bursa Mulai 1 September 2026

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menggelar pelelangan 11 saham Bursa yang belum dikeluarkan atau telah dibeli kembali (treasury shares) pada 1 September 2026.

BEI Bekukan Saham Ini Usai Terbang 160 Persen

Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham PT Saranacentral Bajatama Tbk. (BAJA) mulai Jumat (7/8/2026) menyusul lonjakan harga saham yang dinilai signifikan dalam waktu singkat.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru