Emitentrust.com – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) emiten milik Hapsoro memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia terkait rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue yang tengah disiapkan perseroan.
Dalam keterbukaan informasi Selaaa (28/4), manajemen SINI menyebutkan langkah ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Dana hasil rights issue nantinya akan digunakan untuk tiga hal utama, yakni mengakuisisi PT Cristian Eka Pratama (CEP) melalui induknya PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) yang dimiliki PT Petrosea Tbk (PTRO), membayar utang perseroan, serta menambah modal kerja.
Perseroan menilai PMHMETD menjadi opsi paling strategis dibandingkan alternatif lain karena mampu mengatasi defisiensi modal sekaligus menekan biaya pendanaan.
Perseroan menilai PMHMETD menjadi opsi paling strategis dibandingkan alternatif lain karena mampu mengatasi defisiensi modal sekaligus menekan biaya pendanaan.
SINI juga mengungkapkan rencana penerbitan maksimal 721,5 juta saham baru dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham. Namun, rasio rights issue masih dalam tahap kajian dan akan diumumkan dalam prospektus resmi.
Saat ini, perseroan tengah berkoordinasi dengan pemegang saham pengendali dan utama terkait komitmen partisipasi dalam aksi korporasi tersebut, termasuk kemungkinan kehadiran pembeli siaga (standby buyer).
Untuk mengoptimalkan penyerapan dana, SINI memastikan seluruh pemegang saham akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mempertahankan porsi kepemilikannya, disertai transparansi informasi yang memadai.
Dari sisi struktur permodalan, jumlah saham portepel saat ini tercatat 619 juta lembar. Dengan rencana penerbitan saham baru, perseroan akan meminta persetujuan peningkatan modal dasar dan disetor dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 26 Mei 2026.
Manajemen juga menegaskan bahwa potensi dilusi dapat ditekan apabila pemegang saham mengeksekusi haknya sesuai porsi masing-masing.
Terkait penggunaan dana, perseroan berkomitmen menjalankannya secara transparan dan akuntabel, termasuk melalui pengawasan manajemen, pelaporan berkala, serta penyampaian laporan kepada regulator.
Apabila penyerapan dana tidak maksimal, SINI telah menyiapkan langkah alternatif seperti negosiasi ulang pembayaran akuisisi atau mencari pendanaan dari perbankan.
Adapun rencana akuisisi KMS dinilai sejalan dengan strategi ekspansi untuk meningkatkan pendapatan dan laba. Perseroan juga menyebut potensi sinergi operasional akan memperkuat daya tawar dalam aspek produksi, penjualan, hingga logistik.
Proyeksi menunjukkan KMS berpotensi memberikan kontribusi pendapatan signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, sebagian dana juga akan digunakan untuk pelunasan utang lebih awal guna menekan beban bunga dan memperbaiki rasio keuangan.
Hingga saat ini, SINI belum memiliki rencana aksi korporasi lain dalam 12 bulan setelah rights issue. Perseroan juga menegaskan tidak memiliki perkara hukum material yang dapat mempengaruhi kinerja.
Terkait isu pengambilalihan oleh PT Petrindo Jasa Kreasi Tbk (CUAN), manajemen menyebut belum ada perkembangan terbaru. Namun, CUAN melalui afiliasinya dikabarkan akan berpartisipasi dalam pelaksanaan rights issue.
Sebagai informasi PT Singaraja Putra Tbk (SINI) emiten milik Hapsoro menyiapkan langkah ekspansi besar melalui aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Dalam keterbukaan informasi, SINI berencana menerbitkan hingga 721,5 juta saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi meraup dana segar hingga Rp3,6 triliun.
Dana hasil rights issue tersebut akan difokuskan untuk mengakuisisi 99,995% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO), dengan nilai transaksi mencapai Rp1,73 triliun.
Nilai transaksi tersebut setara 110,27% dari total aset perseroan, sehingga dikategorikan sebagai transaksi material. Selain akuisisi, dana juga akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang lebih awal serta tambahan modal kerja.


