Emitentrust.com- Emiten grup Lippo PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) membukukan laba bersih Rp32,18 miliar sepanjang 2025, anjlok sekitar 76,5% dibandingkan capaian 2024 yang mencapai Rp136,85 miliar. Penurunan tajam ini terjadi seiring merosotnya pendapatan dan tergerusnya laba usaha.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, pendapatan GOWA tercatat Rp295,33 miliar, turun signifikan dari Rp409,30 miliar pada tahun sebelumnya.
Setelah dikurangi beban pajak final, pendapatan neto menjadi Rp288,53 miliar. Beban pokok pendapatan sebesar Rp138,45 miliar membuat laba bruto menyusut ke Rp150,08 miliar, jauh di bawah posisi 2024 yang mencapai Rp230,09 miliar.
Tekanan semakin terasa di level operasional. Laba usaha terjun bebas menjadi Rp35,53 miliar dari Rp134,59 miliar pada 2024.
Di sisi lain, beban keuangan bersih berbalik menjadi minus Rp2,49 miliar (dari sebelumnya surplus Rp3,33 miliar). Bagian rugi dari entitas asosiasi juga masih membebani kinerja.
Alhasil, laba sebelum pajak turun drastis menjadi Rp32,82 miliar. Setelah dikurangi pajak, laba tahun berjalan tercatat Rp32,18 miliar.
Laba per saham (EPS) ikut merosot ke Rp31,69, dibandingkan Rp134,78 pada 2024.
Meski laba tertekan, total aset GOWA justru meningkat menjadi Rp1,40 triliun, dari Rp1,29 triliun pada 2024.
Kas dan setara kas naik menjadi Rp86,90 miliar, dibandingkan Rp78,40 miliar tahun sebelumnya. Sementara persediaan—yang mencerminkan proyek properti—naik menjadi Rp663,96 miliar dari Rp597,31 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas meningkat menjadi Rp545,29 miliar dari Rp463,19 miliar, terutama dipicu kenaikan liabilitas kontrak yang mencerminkan uang muka pelanggan atas proyek berjalan.
Ekuitas perusahaan naik menjadi Rp859,24 miliar, didorong akumulasi laba ditahan yang kini mencapai Rp802,85 miliar.
Sebagai informasi, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) adalah perusahaan publik yang dimiliki bersama oleh PT Makassar Permata Sulawesi (Lippo Group), Pemerintah Daerah (Pemprov Sulsel, Pemkab Gowa, Pemkot Makassar), dan masyarakat (publik). Sebagai pengembang kawasan Tanjung Bunga, kepemilikannya terbagi antara pihak swasta, pemerintah daerah, dan pemegang saham publik.


