Emitentrust.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan potensi dana asing keluar atau outflow akibat rebalancing indeks MSCI kali ini tidak akan sebesar aksi rebalancing sebelumnya.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan estimasi sementara menunjukkan potensi outflow berada di kisaran Rp1 triliun-Rp3 triliun. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan dan BEI masih menunggu perhitungan lebih rinci dari broker.
Menurut Irvan, perhitungan potensi outflow terutama didasarkan pada perubahan bobot saham dalam indeks MSCI serta estimasi dana yang mengikuti indeks tersebut.
“Dari bobot. Misalnya dia diturunkan, tinggal dihitung berapa persen bobotnya dan prediksi berapa persen fund-fund kita yang di situ,” ujar Irvan usai Talk Show dan Workshop UI GreenMetric Sustainable Corporate Rankings 2026 di gedung BEI Jumat (14/8).
Ia menilai potensi arus dana keluar kali ini relatif kecil jika dibandingkan dengan periode rebalancing sebelumnya yang pernah mencapai sekitar US$1,6 miliar atau lebih dari Rp20 triliun.
Salah satu saham yang diperkirakan memberikan kontribusi cukup besar terhadap potensi outflow adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), menyusul keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI Global Standard.
Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) masih masuk dalam indeks MSCI Global Small Cap sehingga dampaknya diperkirakan tidak sebesar saham yang sepenuhnya keluar dari indeks.
Irvan menyebut porsi outflow dari GOTO kemungkinan cukup signifikan dibandingkan saham lainnya. Meski demikian, Irvan belum memperoleh angka final mengenai potensi dana asing yang akan keluar dari masing-masing saham.
Terkait pelaksanaan rebalancing, Irvan menjelaskan MSCI biasanya memberikan pengumuman terlebih dahulu, kemudian periode penyesuaian berlangsung hingga akhir bulan.
Dalam siklus kali ini, proses rebalancing berlangsung mulai sekitar 12 Agustus hingga 31 Agustus 2026.
Sebagian investor, terutama investor pasif, dapat mulai melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap. Namun, porsi transaksi terbesar biasanya terjadi pada hari terakhir periode rebalancing.
“Sebagian besar, terutama pasif, dia akan melakukan transaksinya di tanggal 31. Ada yang sudah mulai cicil jual atau beli mulai tanggal 12, tapi pasti porsi terbesarnya di hari terakhir rebalancing,” jelasnya.
Dengan demikian, tekanan jual dari investor asing diperkirakan dapat meningkat menjelang akhir periode rebalancing, khususnya pada saham yang mengalami penurunan bobot atau keluar dari indeks.
Di tengah potensi arus dana asing keluar tersebut, BEI meminta investor tetap tenang dan tidak mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan sentimen rebalancing MSCI.
Irvan mengimbau investor untuk mencermati keterbukaan informasi, laporan keuangan dan hasil analisis sebelum mengambil keputusan.
“Tetap tenang, cermati informasi, pelajari laporan keuangan, laporan analisis, investasi dengan bijak, nggak usah panik,” katanya.
Menurut dia, investor Indonesia juga sudah semakin terbiasa menghadapi siklus rebalancing indeks global. Karena itu, dinamika tersebut sebaiknya dipandang sebagai bagian dari proses yang telah berulang selama bertahun-tahun di pasar modal.


