back to top

Pefindo Ungkap Peringkat Obligasi Bank SMBC (BTPN) yang Beredar

Emitentrust.com- PEFINDO menegaskan peringkat idAAA untuk PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) dan obligasi yang beredar. Prospek dari peringkat Perusahaan adalah stabil. Peringkat tersebut terutama dipengaruhi oleh tingkat kemungkinan yang sangat kuat akan adanya dukungan dari Induk, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).

Profil kredit berdiri sendiri SMBC Indonesia mencerminkan indikator permodalan dan posisi pasar yang sangat kuat, tetapi dibatasi oleh tekanan pada indikator profitabilitas.

Peringkat dapat diturunkan jika PEFINDO melihat adanya penurunan yang material dari tingkat dukungan dan kepemilikan SMBC terhadap SMBC Indonesia. Peringkat juga dapat berada di bawah tekanan jika profil bisnis atau kinerja keuangan SMBC Indonesia memburuk secara signifikan, tanpa adanya indikasi dukungan dari SMBC.

SMBC Indonesia adalah bank umum yang fokus pada segmen korporasi, pensiunan, UMKM, dan konsumer. Per 31 Desember 2025, Perusahaan dimiliki oleh SMBC (91,05%), PT Bank Central Asia Tbk (1,03%), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (0,11%), dan publik (7,81%).

Seperti diketahui, kinerja PT Bank SMBC Indonesia Tbk (only) pada 2025 mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp1,5 triliun. Sementara pada 2024 perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 2,23 triliun.

Dalam laporan keuangan yang diterbitkan Selasa (3/3) disebutkan bahwa secara operasional, pendapatan bunga dan syariah bersih masih tumbuh.

Pendapatan bunga dan syariah bersih naik menjadi Rp15,91 triliun dari Rp15,20 triliun dan Pendapatan provisi dan komisi juga meningkat menjadi Rp1,49 triliun dari Rp1,22 triliun.

Namun, tekanan besar datang dari pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang melonjak tajam menjadi Rp8,04 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 yang sebesar Rp3,89 triliun.

Lonjakan pencadangan ini membuat pendapatan operasional bersih anjlok drastis menjadi hanya Rp323,9 miliar dari sebelumnya Rp4,10 triliun.

Laba sebelum pajak tercatat Rp281,3 miliar, turun tajam dari Rp4,12 triliun tahun sebelumnya.

Setelah beban pajak Rp383,4 miliar, bank membukukan rugi bersih Rp102,1 miliar.

Laba per saham (EPS) ikut merosot menjadi Rp47, dari Rp279 pada 2024.

Artikel Terkait

Antam (ANTM) Guyur Dividen Rp5T, 70 Persen Laba 2025

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM ) atau Antam menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp5,046 triliun, setara dengan 70 persen dari laba bersih tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

BRMS Buka Data Baru Pemegang Saham Jumbo per Mei 2026

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melaporkan peningkatan porsi saham publik (free float) pada akhir Mei 2026. Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek, free float BRMS naik menjadi 45,66% dari

Astra (ASII) Bidik Kenaikan EPS Lewat Buyback Rp8T

PT Astra International Tbk (ASII) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp8 triliun. Langkah korporasi ini dilakukan sebagai bagian dari strategi Perseroan untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham sekaligus mengoptimalkan alokasi modal perusahaan.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru